Thursday, March 26, 2020

fakta menarik seputar dieng


BERIKUT INI FAKTA MENARIK DARI DATARAN TINGGI DIENG YANG MEMBUATNYA TAK PERNAH SEPI OLEH PENGUNJUNG

Dataran Tinggi Dieng memang selama ini menjadi salah satu lokasi favorit kunjungan wisatawan di daerah Jawa Tengah. Dan sepertinya peristiwa letusan kawah yang pernah terjadi, tidak serta merta membuatnya hilang akan pamor.

Banyak orang bilang bahwa lokasi ini menyimpan berbagai macam keunikan serta kisah-kisah bersejarah yang menarik untuk dipelajari. Maka dari itu, mengunjungi Dataran Tinggi Tinggi Dieng sama halnya dengan wisata all in. Karena di sana kita bisa mempelajari budaya, alam, sejarah, mistis, dan lainnya. Berikut ini sebuah cerita tentang tempat yang konon menjadi rumah bagi titisan para dewa yang membuatnya pantas untuk menjadi destinasi pilihan para travellers.


1. TERDAPAT DESA TERTINGGI DI PULAU JAWA.
Desa Sembungan menjadi desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2.300 mdpl. Desa Sembungan menjadi bagian Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, sekitar 7 kilometer ke arah selatan dari pusat wisata Dataran Tinggi Dieng.

Dengan menggunakan kendaraan bermotor, Desa Sembungan dapat dicapai kurang lebih 15 menit. Tak sulit untuk mencapai Desa Sembungan karena sebagian besar jalan sudah dilapisi aspal, meski ada beberapa bagian yang masih berlubang.

Satu hal yang menjadi keunikan Desa Sembungan adalah keramahan warganya yang menghangatkan udara dingin di Dieng. Selain itu, kentang dan wortel menjadi hasil pertanian utama daerah ini. Tak heran jika di kawasan Bukit Sikunir dan Kawah Sikidang banyak penjual yang menjajakan kedua hasil pertanian tersebut.




2. SALJU DI NEGARA TROPIS.
Setelah musim hujan, beberapa wilayah di Indonesia dilanda cuaca dingin. Khususnya pada pagi dan malam hari, suhu bisa mencapai kurang dari 15 derajat celcius. Bahkan di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah pada 24 Juni kemarin suhu udara bahkan menyentuh -9 derajat celcius. Hal itu membuat munculnya fenomena frost atau embun beku yang bentuknya mirip sekali dengan salju di Eropa.

Meski bentuknya mirip salju, namun frost atau embun es ini memiliki perbedaan. Beda es dengan salju terletak pada bagaimana proses air membeku menjadi bentuk padat. Dilansir Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Setyoajie Prayodhie menerangkan, embun es muncul lantaran terjadi penurunan suhu ke titik beku. Makanya, embun yang muncul di rumput, daun dan batang-batang tanaman kemudian menjadi es saat suhu turun di titik terendah, yakni pagi hari.




3. GINSENG ASLI NUSANTARA.
Tanaman purwaceng dikenal sebagian masyarakat sebagai Ginseng Jawa, tanamannya seperti rumput, pendek. Para peneliti menyatakan kalau purwaceng termasuk tumbuhan langka, karena umumnya merupakan tanaman liar. Tetapi kini, ketika mulai diketahui khasiatnya, bahkan disebut sebagai “Viagra of Java” maka sebagian petani di Dieng mulai membudidayakan tanaman tersebut.

Jangan heran, ketika datang ke Dieng dan mampir di warung-warung sekitar kawasan wisata setempat, maka minuman purwaceng pertama kali yang akan ditawarkan. Biasaya ada purwaceng murni, ada pula yang telah dicampur dengan kopi atau susu. Rasanya, sama-sama menyegarkan.




4. ANAK BAJANG TITISAN DEWA.
Anak Bajang rambut gimbal Dieng titisannya para leluhur, Ya itulah kepercayaan masyarakat asli Dieng. Bocah Bajang/Anak Bajang adalah sebutan untuk anak Dieng yang memiliki rambut panjang dan gimbal. Anak Bajang berambut gembel di Dieng ini diyakini sebagai titisan Kiai Kaladete atau Nyai Dewi Roro Ronce.

Mitologi tersebut ternyata hingga menjadi sebuah tradisi besar bagi masyarakat pegunungan Dieng untuk setiap tahun mengadakan ritual memotong rambut para anak anak Bajang ini.

Anak lelaki Bajang, diyakini sebagai pertanda titisan Kiai Kaladete. Yaitu, Penguasa Dataran Tinggi Dieng yang bersemayam di Telaga Balaikambang di dekat komplek Candi Arjuna. Adapun rambut gembel pada anak putri dinilai sebagai titisan Nyai Dewi Roro Ronce, abdi penguasa Pantai Selatan Nyai Roro Kidul.




5. BUAH ENDEMIK INDONESIA.
Bila Anda berkunjung ke daerah Dieng di Wonosobo. Tentu di sepanjang jalan akan melihat jajaran buah mirip pepaya namun berukuran lebih kecil. Ya, Anda pasti sudah mengenalnya. Itulah Carica Dieng, atau dikenal juga dengan nama pepaya gunung.

Buah khas daerah wisata Dieng di Wonosobo. Buah yang memiliki nama latin Vasconcellea Cundinamarcencis ini tumbuh subur di dataran tinggi seperti Dieng. Pada ketinggian sekitar 1500-3000 m di atas permukaan laut. Selain di Dieng, buah ini juga bisa dijumpai di Bali, dengan nama gedang memedi.

Namun sebenarnya asal buah ini adalah dataran tinggi Andes, Amerika Selatan. Masuk ke Indonesia pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda di Perang Dunia II. Buah ini tumbuh subur di dataran Dieng hingga menjadi buah khas daerah ini.

Buah yang dihasilkan juga sangat mirip dengan pepaya, hanya ukurannya saja yang membedakan. Buah yang masih muda berwarna hijau tua sedangkan yang sudah matang memiliki warna kekuningan. Dengan rasa yang sedikit asam dan berbau harum. Daging buah cenderung keras dan di sekeliling rongganya terdapat banyak biji. Pada saat masih muda, buah ini mengandung banyak getah namun akan semakin berkurang ketika matang.




6. KAWAH CANDRADIMUKA.
Kawah Candradimuka (Candradimuka Crater) terletak di atas sebuah bukit yang lumayan tinggi dengan jarak tempuh sejauh 5 kilometer. Dengan track naik dengan kemiringan antara 30 hingga 45 derajat dengan jalan berbatu dan tanah yang cukup labil untuk ditapaki.

Kontur atau bentuk Kawah Candradimuka memanjang dan mengikuti aliran sungai. Kawah ini berasal dari sesar atau patahan yang mengeluarkan uap panas, air panas, belerang dan lumpur. Aktivitas pemanasan berasal dari hidrotermal sisa gunung Jimat yang diperkirakan tidak aktif lagi ketika jaman kuarter tengah.

Kawah Candradimuka menurut cerita pewayangan adalah kawah yang berada di alam khayangan. Merupakan tempat di mana dulu Gatotkaca (anak Wrekudara dan Arimbi) di rebus untuk menambah kesaktian dan kekuatan. Setelah keluar dari Kawah Candradimuka diceritakan kalau Gatutkaca memiliki otot kawat, tulang besi. Mitos lain yang berkembang adalah belerang dari Candradimuka bisa menyembuhkan penyakit kulit lho... Ada yang berminat berendam di kawah ini?



Tidak salah kemudian bila Dataran Tinggi Dieng disebut-sebut sebagai tempat titisan para dewa. Di sana kita bisa bertemu dengan anak-anak berambut gimbal pembawa kesejahteraan, menikmati dinginnya salju di musim kemarau, merasakan hangatnya gingseng nusantara, mempelajari berbagai kisah dewa dewi di kawah, sampai melihat panorama langsung lima gunung yang berbeda. Cuma Dieng yang memiliki semua itu!

 

No comments:

Post a Comment